Selasa, 01 Juni 2010

Manusia dan Harapan

Manusia menjadi manusia karena ia memiliki keinginan ; memiliki harapan. Tikus, kera, lumba-lumba atau gurita dikenal sebagai makhluk-makhluk yang memiliki kecerdasan yang cukup hebat, namun kita tidak pernah menemukan di antara hewan-hewan ini munculnya spesies yang lebih unggul daripada manusia. Bahkan berpikir ke arah sana pun tidak pernah mereka lakukan.

Barangkali itu pula salah satu hikmahnya mengapa Al-Qur’an menyebut manusia (salah satunya) dengan nama ‘an-nafs’. Dengan menonjolkan sifat hawa nafsunya, kata ini mencakup segala keinginan dan harapan manusia, baik yang mulia maupun yang buruk. Dari selera makan hingga nafsu syahwat, dari cita-cita hingga rasa penasaran yang membuat hati gelisah ; semuanya terkait dengan nafsu.

Bagaimana pun hawa nafsu itu mesti berada di bawah kendali kita. Nabi Yusuf as. pernah menegaskan bahwa hawa nafsu itu selalu mengarah pada keburukan, kecuali jika ia dirahmati oleh Allah SWT (Q.S. Yusuf [12] : 53). Sebelumnya, Al-Qur’an juga telah menjelaskan bahwa Nabi Yusuf as. pun memiliki keinginan sebagaimana layaknya lelaki biasa ketika istri majikannya datang menggodanya (Q.S. Yusuf [12] : 24). Namun, pada ayat yang sama, dijelaskan pula bahwa Nabi Yusuf as. diberikan kemampuan untuk mengendalikan dirinya dengan sedemikian baiknya sehingga terhindar dari perbuatan buruk.

Memiliki harapan adalah sebuah kewajaran bagi manusia, bahkan sebuah keniscayaan. Manusia yang tidak memiliki harapan dalam hatinya sama saja dengan menunggu mati. Ia sudah tidak lagi berfungsi sebagai makhluk Allah yang diberi tugas sebagai khalifah di muka bumi, karena inisiatifnya sudah terkunci mati. Harapanlah yang menggerakkan manusia untuk melakukan apa yang dianggapnya perlu. Tanpa harapan, manusia tidak akan berbuat apa-apa.

Di sisi lain, harapan juga bisa membuat hidup semakin rumit, jika ia ditempatkan pada posisi yang salah. Harapan yang menggebu-gebu akan membuat hati semakin hancur ketika apa yang diharapkannya itu gagal terwujud. Semakin ia dibiarkan membubung tinggi, semakin keras pula ketika ia jatuh.

Ketika Presiden SBY dilantik, banyak orang berharap padanya. Kharisma SBY menarik hati banyak orang, sehingga meskipun Partai Demokrat perolehan suaranya masih kalah jauh dibanding partai-partai besar, namun ia bisa menaklukkan jago-jago dari Partai Golkar, PDIP, PPP, dan PKB. Golkar bahkan kemudian ‘bermanuver’ agar bisa menempel ketat dengan SBY.

Apa dinyana, segera setelah mulai bertugas, musibah demi musibah ‘mampir’ di negeri ini. Dimulai dari tsunami yang menewaskan lebih dari dua ratus ribu manusia, sampai pada lumpur Lapindo yang hingga detik ini belum berhenti bergolak. Gempa terjadi dimana-mana dengan kekuatan rata-rata di atas tiga skala Richter. Setelah musim kemarau yang berat, musim penghujan pun tidak memberi dispensasi. Ibukota kembali terendam, dan rakyat dipaksa untuk mengungsi kemana-mana. Belum lagi masalah beras impor, RUU APP, kecelakaan transportasi, sampai pada pertarungan elit politik yang menyebabkan terhambatnya kinerja pemerintah.

Saya ingat pernah mendengar pembicaraan dua orang perempuan di angkutan umum, yaitu ketika salah satunya berkata, “Sejak SBY memerintah kok banyak musibah ya. Barangkali ini adalah tanda bahwa Allah nggak ridha pada SBY!” Sebuah pola pikir pragmatis diam-diam sudah menyelinap jauh ke dalam benak negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Betapa ironis.

Logika yang sama pernah digunakan oleh para pendukung Soeharto ketika menanggapi Reformasi dengan sinis. Selama 32 tahun Soeharto memerintah, keadaan negara relatif lebih stabil. Artinya, Soeharto masih lebih baik daripada orang-orang yang mengkudetanya. Benarkah demikian?

Besarnya harapan pada reformasi membuat orang berpikir terlalu sederhana, sehingga mereka menyangka bahwa kemakmuran akan tercapai dalam waktu semalam. Begitu pula para kader partai di seluruh penjuru negeri dengan begitu polosnya menyangka bahwa jika partai mereka menang (meskipun dengan perolehan suara yang tidak sampai lima puluh persen) maka negeri akan tentram. Padahal, mereka tidak hidup sendiri di negeri ini.

Jika Menteri Perhubungan diganti, apakah jumlah musibah transportasi akan segera berkurang drastis? Padahal dalam hal tersebut terlibat banyak orang, dan tentu saja seorang menteri tidak mungkin menghabiskan waktunya untuk melakukan sidak dan memeriksa semua alat transportasi di negeri ini. Apa gunanya walikota yang bersih jika semua camat dan lurahnya korup? Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Ketua MPR yang jujur jika mayoritas anggotanya masih bermental aji mumpung? Keadaan sebenarnya tidaklah sesederhana itu.

Masalah muncul ketika kita menaruh harapan terlalu besar kepada orang lain. Seorang akhwat kenalan saya mendapatkan masalah besar karena ada seseorang yang terlalu berharap banyak darinya. Sebagai manusia, kemampuannya memang terbatas. Ada hal-hal yang tidak bisa dijangkaunya, dan sesekali ada kalanya kinerjanya menurun. Ada kalanya pikiran bisa terfokus pada tugas, ada kalanya pula hati menjadi demikian sensitif dan melankolis. Anda tidak bisa mengharapkan seorang manusia untuk senantiasa bersikap seperti operator hotline yang siap menerima keluhan selama 24 jam. Bahkan operator hotline pun mengenal waktu shift kerja.

Ada yang bilang, menjadi wakil rakyat itu serba salah. Kalau mobilnya berganti dengan yang lebih baik, ada saja yang mencibirnya. “Wah, mentang-mentang sudah jadi anggota DPR…” Padahal mobil itu dibelinya dengan uang halal hasil kerja kerasnya sendiri (dan ia tak pernah membolos kecuali sakit, tidak pernah pula ketiduran di saat sidang). Kalau anaknya disekolahkan di tempat yang baik pasti ada yang mencibir, dan kalau istrinya membeli pakaian yang lebih baik ada-ada saja omongan orang.

Kita tidak bisa berharap Presiden atau Ketua MPR kita mampu bersikap seperti Khalifah Umar bin Khattab ra., karena memang kualitasnya masih jauh dari itu. Kita tidak bisa mengharapkan loyalitas para aktifis dakwah akan sehebat Bilal bin Rabah ra. yang semangatnya tidak pudar meskipun dipanggang di atas panasnya pasir Mekkah di siang bolong. Mengertilah. Perbandingannya memang tidak sesuai.

Kita memang tidak bisa menaruh harapan terlalu banyak pada manusia. Mereka yang memahami syahadatain seharusnya mengerti bahwa harapan sejati hanya boleh kita sandingkan di sisi Allah, bukan manusia. Manusia mana pun di muka bumi ini pasti akan mengecewakan Anda sesekali. Dan itu adalah bagian dari fitrah mereka sebagai manusia. Mengerti, maklumi dan maafkanlah.

sumber :
http://akmal.multiply.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar